1
Dilema Dua Pilihan
Dilema Dua Pilihan
Saat itu pula keyakinan untuk percaya bahwa
Rencana Allah lebih indah dari apa yang di bayangkan
Ba'da dzuhur di rumah AlfiaturrahmahYa Allah..
pemilik langit dan bumi aemesta alam
hanya kepadamulah tempatku bersandar
dalam mengarungi kehidupan yanng tiada kuketahui
baik, buruknya Qodar-Mu
ya Robbi..
sang penggenggam hati
izinkan hambamu yang bodoh dan hina ini
memilih perkara yang telah ada di hadapanku
perkara-perkara yang membawaku
dalam cahaya Ridho-Mu
dan tak luput pula
membimmbingku untuk menuju jalan Sirotummustaqim
"FI...," panggil umi dari luar kamar.
"sebentar Mi...,"teriakku seraya melepas mukena.
"ada apa mi?"
"kamu udah mantap sama keputusanmu?" umi menatapku lekat.
"emang kenapa Mi?abah g setuju ya?" rasa penasaran menyelimutiku
"bukan gitu sayang..abah cuman gak mau keburu buru dalam menentukan pilihan, bukankah terburu buru itu merupakan sikap setan sayang?"jelas umi.
"tapi kalau di tunda-tunda, itu mubadzir waktu mi. Allah kan membenci hal-hal yang mubadzir mi ?
"jadi..." umi penasaran.
"alfi mau kepesantren siang ini juga."kataku mantap.
"sebenarnya aku sedih bilang ini mi, maafkan Alfi ya Mi..bah..
Alfi tahu abah ingin alfi kuliah dan melanjutkan ke perguruan tinggi. tapi demi Allah, zat yang maha menciptakan, alfi lebih tertarik untuk mendalami Al-Qur'an. alfi ingin meninggalkan dunia pendidikan untuk menghafal Al-Qur'an.
"fi..!" seru umi.
aku tersentak kaget.
"abah mau bicara"
dengan rasa bersalah, aku menghadap diruang tamu, kulihat abah dengan mata yang yang berkaca-kaca.
"maafin alfi bah" kataku pelan guna mencairkan suasana.
Abah percaya sama kamu kok Fi. abah dan umi cuma ingin kamu berbahagia."
mendengar kebijakan abah, aku bangga dengan beliau.
semoga Allah memberikan kegembiraan selalu untuk Abah.
kupeluk abah dengan butiran bening bak air hujan.
ba'da ashar aku benar-benar berangkat kepesantren dan diantar oleh umi dan abah.
Sesampainya disana
"jaga dirimu yah fi," pesan um.
"iya mi."
sekuat aku menahan tangisku, aku ingin terlihat tegar dihadapan umi dan aba. walaupun aku benar-benar lemah, tak berdaya.
"jangan kecewakan abah ya fi"
"insya Allah Bah, doakan alfi ya BAh."
abah mengangguk. setelah saling menumpahkan rasa kasih sayang. abah dan umi pun pamit pada Pak Kyai dan Bu Nyai.
Perkenalan
"Alfiaturrahman," kataku mengulurkan tangan pada seseorang perempuan.
"ana." ucapnya menyambut uluran tanganku.
"cuma ana ?"
"rizqiana Isnaini"
"oh.."
"udah lama di sini mbak?"
"baru, sama kayak kamu, panggil aja pakek nama. soalnya aku risih."
"maaf deh kalau gitu an.."
"nah gitu dong mulai sekarang kita DOSTI."
"apa?"
Mujshe dosti karoge?
siapa takut? kataku seraya terseyum, aku gak nyangka baru melangkah untuk menuntut ilmu. allah telah mengirim bidadari kecil untuk menemaniku dalam suka dan duka.
6 bulan kemudian
"fi..ada surat buat kamu."
siang itu abah datang menjengukku dengan wajah sumringah. abah serahkan surat itu dengan senyum kebahagiaan.
"coba kamu baca surat ini" perintah abah.
dengan bergetar bercampur rasa takut, kubuka surat itu dan kuperhatikan dengan seksama.
"masya allah, aku hampir lupa.."hatiku mendesah.
kejadian 1 tahun yang lalu tergores kembali. dimana saat itu hanya ketenaranlah yang kucari. entah setan apa yang telah masuk dalam pikiranku, aku begitu tertarik ketika ada audisi untuk menjadi seorang artis. tak kupikirkan akibatnya. aku daftarkan diriku sebagai peserta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar