Marquee Text Live - http://www.marqueetextlive.com

Laman

Sabtu, 22 Desember 2012

Feminisme pada Novel “Bekisar Merah”



Ahmad Tohari adalah sastrawan yang terkenal dengan novel triloginya Ronggeng Dukuh Paruk yang ditulis pada 1981. Belum lama ini ia dianugerahi PWI Jateng Award 2012 dari PWI Jawa Tengah karena karya-karya sastranya yang dinilai mampu menggugah dunia.
Lahir di Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah pada 13 Juni 1948, Ahmad Tohari menamatkan SMA nya di Purwokerto. Setelah itu ia menimba ilmu di Fakultas Ilmu Kedokteran Ibnu Khaldun, Jakarta (1967-1970), Fakultas Ekonomi Universitas Sudirman, Purwokerto (1974-1975), dan Fakultas Sosial Politik Universitas Sudirman (1975-1976).
Ahmad Tohari sudah banyak menulis novel, cerpen dan secara rutin pernah mengisi kolom Resonansi di harian Republika. Karya-karya Ahmad Tohari juga telah diterbitkan dalam berbagai bahasa seperti bahasa Jepang, Tionghoa, Belanda dan Jerman. Novel Ronggeng Dukuh Paruk bahkan pernah ia terbitkan dalam versi bahasa Banyumasan, yang kemudian mendapat penghargaan Rancage dari Yayasan Rancage, Bandung pada tahun 2007.
Cerpennya yang berjudul "Jasa-jasa buat Sanwirya" pernah mendapat hadiah hiburan Sayembara Kincir Emas 1975 yang diselenggarakan Radio Nederlands Wereldomroep. Sedangkan novelnya Kubah yang terbit pada tahun 1980 berhasil memenangkan hadiah Yayasan Buku Utama pada tahun 1980.
Beberapa waktu lalu novel triloginya, Ronggeng Dukuh Paruk diadaptasi ke layar lebar dengan judul Sang Penari. Menurutnya di film ini sang sutradara di beberapa bagian lebih berani menggambarkan apa yang ia sendiri tidak berani menggambarkannya. Ia pun ikut larut dalam emosi film ini meski endingnya tidak setragis versi novel.

Sinopsis Cerita
Di Desa Karangsoga, Darsa bekerja sebagai penyadap nira kelapa. Ia memiliki seorang istri yang sangat cantik bernama Lasiyah, anak mbok Wisyaji. Pak Wiryaji sendiri adalah paman darsa. Setiap hari Lasi membantu suaminya mencari kayu bakar dan mengolah nira menjadi gula. Kehidupan penduduk karangsoga yang mayoritas penyadap nira sangatlah miskin. Sebab harga satu kilo gula selalu lebih rendah dari sekilo beras. Kebanyakan penyadap nira itu menjual gula mereka ke Pak Tir seorang tengkulak gula yang kaya di desa Karangsoga.
Suatu hari Darsa terjatuh dari pohon kelapa. Ia dibawa ke rumah sakit. Tetapi karena berdah syaraf dan tak mampu membiayai, Darsa dirawat di rumah. Ternyata ia terkena gangguan pada syaraf kandung kemih sehingga Darsa ngompol terus dan impotent. Darsa dirawat oleh Bunek seorang dukun bayi sekaligus tukang pijat. Beberapa bulan dirawat oleh Bunek, Darsa mengalami kemajuan bahkan bias sembuh. Akan tetapi Darsa di jebak oleh Bunek dengan menyuruhnya membuktikan kejantanannya kepada anak bungsu Bunek, Sipah yang pincang. Bunek tak ingin anak bungsunya itu menjadi perawan tua, sedangkan Darsa sendiri merasa “rikuh” menolak permintaan Bunek yang telah menyembuhkannya.
Peristiwa
ini adalah awal kehancuran rumah tangga Darsa. Lasi minggat ke Jakarta dengan memaksa Pardi, supir truk Pak Tir yang biasa mengantar gula ke Jakarta. Di Jakarta, Lasi dititipkan diwarung Bu Koneng. Ternyata Bu Koneng menjual Lasi kepada Bu Lanting secara halus. Di ruamah Bu Lanting, Lasi dimanjakan. Bu lanting bermaksud menjual Lasi kepada Handarbeni seorang overste purnawirawan yang sedang mencari “bekisar” untuk dijadikan gundik. Istilah bekisar dinisbatkan pada Lasi yang ternyata seorang turunan Jepang. Memang ayah Lasi adalah seorang tentara Jepang yang tertarik dengan mbok Wiryaji muda. Tetapi si Jepang itu pergi semasa Lasi belum lahir dan dikabarkan tewas. Waktu kecil Lasi memang sering diolok-olok teman-temannya dengan sebutan Lasi-pang atau Lasi anak jepang, kecuali Kanjat anak Pak Tir. Walaupun umur kanjat lebih muda dari lasi, tetapi ia selalu ingin melindungi Lasi . ketika diperlihatkan foto Lasi yang berpakaian kimono, Handarbeni sangat tertarik. Katanya mirip artis Jepang Haruko Wanibuchi yang sangat digandruginya.
Lasi tak bias menolak tawaran Bu lanting untuk menjadikan dirinya sebagai gundik Handarbeni karena ia merasa “kepotangan budi”. Dengan terpaksa dan seperti main-main kawin-kawinan seperti ketika ia masih kecil dulu. Dan Lasi mencintai Kanjat setelah sekian lama mereka berpisah dan bertemu dengan nya ketika ia ingin menjemput Lasi pulang ke kampungnya saat itu ia sedang menunggu tamu Bu Lanting yaitu pak Handarbeni ia akhirnya menikah dengan Pak Handarbeni selama 2 tahun dan setelah itu ada seorang teman Bu Lanting yang suka kepadanya yaitu Pak Bambung tetapi ia menolak dan pulang ke kampungnya. Di Karangsoga ia menikah dengan Kanjat di saksiakan kerabat dekat orang tua dan Eyang Mus.

Kelebihan dan kelemahan novel Bekisar Merah:
1.      Kelebihan Novel
·        Novel memberikan nilai-nilai ektrinsik yaitu nilai sosial, nilai budaya, nilai ekonomi, nilai agama yang memberikan ajaran pada pembaca
·        Novel memberikan informasi tentang kehidupan masyarakat penyadap air nira kelapa dan kehidupan kota yang sangat berbanding terbalik dengan kehidupan yang ada di desa Karangsoga dan itu memang ada di dalam kehidupan kita jarak strata kehidupan orang desa yang miskin serba kekurangan dan orang kaya di kota yang bermewah-mewah dan punya jabatan yang tinggi.
·        Nilai kesetiaaan seorang istri merawat suaminya yang sakit yang menggugah pembaca.
2.      Kekurangan novel
·        Akhir dari cerita novel ini masih menggantung, tidak jelas akhirnya
·        Di dalam novel terdapat banyak kata-kaya yang berasal dari bahasa daerah Jawa yang tida semua pembaca dapat mengerti, terdapat kata-kata kasar yang terlalu fullgar misalnya kata lemah pucuk penyakit si Darsah”.

Sedikit menyinggung tentang teori yang akan digunakan untuk menganalisis unsur dalam Bekisar Merah, yaitu feminisme. Feminisme adalah sebuah gerakan perempuan yang menuntut emansipasi atau kesamaan dan keadilan hak dengan pria. Tokoh feminisme disebut feminis. Feminisme sebagai filsafat dan gerakan berkaitan dengan Era Pencerahan di Eropa yang dipelopori oleh Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis de Condorce. kata feminisme pertama kali dicetuskan oleh aktivis sosialis utopis, Charles fourier pada tahun 1873. Pergerakan yang berpusat di Eropa ini berpindak ke Amerika dan berkembang pesat sejak publikasi John Stuart Mill, Perempuan sebagai Subyek pada tahun 1869. Perjuangan mereka menandai kelahiran feminisme Gelombang pertama. Pada awalnya gerakan ditujukan untuk mengakhiri masa-masa pemasungan terhadap kebebasan perempuan. Secara umum kaum perempuan (feminim) merasa dirugikan dalam semua bidang dan dinommor duakan oleh kaum laki-laki (maskulin) dalam bidang sosial, pekerjaan, pendidikan, dan politik khususnya. Terutama dalam masyarakat yang bersifat patriarki. Sebenarnya ada fundamentalisme agama yang melakukan opresi terhadap kaum perempuan memperburuk situasi. Di lingkungan agama Islam, wanita tidak boleh menjadi iman dan drajat wanita di bawah laki-laki. Pergerakan di Eropa untuk menaikkan derajat kaum perempuan disusul oleh Amerika Serikat saat terjadi revolusi sosial dan politik. Pada tahun 1792 Mary Wollstonecraft membuat karya tulis berjudul “Mempertahankan Hak-hak Wanita” (Vindication of the Right of Woman) yang berisi prinsip-prinsip feminisme dasar yang digunakan dikemudian hari. Pada tahun-tahun 1830-1840 sejalan terhadap pemberantasan praktik perbudakan, hak-hak kaum perempuan mulai diperhatikan dengan adanya perbaikan dalam jam kerja dan gaji kerja. Selain itu, perempuan juga diberi kesempatan ikut dalam pendidikan dan ikur serta dalam hak pilih. Pada tahun 1960 munculnya negara-negara baru, menjadi awal bagi perempuan mendapatkan hak pilih dan selanjutnya ikut ranah politik kenegaraan dengan diikutsertakan perempuan dalam hak suara parlemen.

Analisis:
Pada novel “Bekisar Merah”, Ahmad Tohari menulis dengan sudut pandang orang di luar cerita. Sehingga tak ada kata yang menunjukkan penulis masuk dalam cerita novel tersebut. Ahmad Tohari menaruh kefeminismean kepada tokoh Lasi. Namun, Ahmad Tohari menggambarkan tokoh Lasi yang berusaha memuaskan suaminya dengan caranya sendiri. ketidakfeminismean dalam Bekisar Merah di ceritakan dengan penindasan seorang tokoh Lasi karena asal-usulnya, ekonomi keluarga, dan diduakan oleh suaminya. Dari situ terlihat muncul ide dari seorang Ahmad Tohari untuk mengembangkan cerita. Lasi yang mulai tidak tahan dengan penindasan atau peremehan yang dia terima, maka mengambil keputusan yang nekat. Namun, awalnya masih belum keluar dari sesuatu yang sebenarnya menindas Lasi. Dia masih tertindas, tapi Ahmad Tohari menceritakannya dengan kalimat yang tidak langsung menuju kepada penindasan, namun menceritakan dengan cara tingkah laku tokoh lain. 
Feminisme yang merupakan sebuah gerakan perempuan yang menuntut emansipasi atau kesamaan dan keadilan hak dengan pria, terlihat dalam novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari ini. Namun, semua itu didapat dengan proses yang panjang dan sulit. Ketika sebuah kefeminismean sudah didapat semua oleh tokoh Lasi, Ahmad Tohari tidak menceritakan kehidupan tokoh Lasi secara detail. Sehingga feminisme yang didapat terlihat hanya sekejap dan ceritanya terasa menggantung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar