Ahmad Tohari adalah sastrawan yang terkenal dengan novel
triloginya Ronggeng Dukuh Paruk yang ditulis pada 1981. Belum lama ini
ia dianugerahi PWI Jateng Award 2012 dari PWI Jawa Tengah karena karya-karya
sastranya yang dinilai mampu menggugah dunia.
Lahir di Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah pada
13 Juni 1948, Ahmad Tohari menamatkan SMA nya di Purwokerto. Setelah itu ia
menimba ilmu di Fakultas Ilmu Kedokteran Ibnu Khaldun, Jakarta (1967-1970),
Fakultas Ekonomi Universitas Sudirman, Purwokerto (1974-1975), dan Fakultas
Sosial Politik Universitas Sudirman (1975-1976).
Ahmad Tohari sudah banyak menulis novel, cerpen dan secara
rutin pernah mengisi kolom Resonansi di harian Republika. Karya-karya Ahmad Tohari
juga telah diterbitkan dalam berbagai bahasa seperti bahasa Jepang, Tionghoa,
Belanda dan Jerman. Novel Ronggeng Dukuh Paruk bahkan pernah ia
terbitkan dalam versi bahasa Banyumasan, yang kemudian mendapat penghargaan
Rancage dari Yayasan Rancage, Bandung pada tahun 2007.
Cerpennya yang berjudul "Jasa-jasa buat Sanwirya"
pernah mendapat hadiah hiburan Sayembara Kincir Emas 1975 yang diselenggarakan
Radio Nederlands Wereldomroep. Sedangkan novelnya Kubah yang terbit pada
tahun 1980 berhasil memenangkan hadiah Yayasan Buku Utama pada tahun 1980.
Beberapa waktu lalu novel triloginya, Ronggeng Dukuh
Paruk diadaptasi ke layar lebar dengan judul Sang Penari. Menurutnya di
film ini sang sutradara di beberapa bagian lebih berani menggambarkan apa yang
ia sendiri tidak berani menggambarkannya. Ia pun ikut larut dalam emosi film
ini meski endingnya tidak setragis versi novel.
Sinopsis Cerita
Di Desa
Karangsoga, Darsa bekerja sebagai penyadap nira kelapa. Ia memiliki seorang
istri yang sangat cantik bernama Lasiyah, anak mbok Wisyaji. Pak Wiryaji sendiri adalah paman darsa. Setiap hari Lasi membantu suaminya mencari
kayu bakar dan mengolah nira menjadi gula. Kehidupan penduduk karangsoga yang
mayoritas penyadap nira sangatlah miskin. Sebab harga satu kilo gula selalu
lebih rendah dari sekilo beras. Kebanyakan penyadap nira itu menjual gula
mereka ke Pak Tir seorang tengkulak gula yang kaya di desa Karangsoga.
Suatu hari
Darsa terjatuh dari pohon kelapa. Ia dibawa ke rumah sakit. Tetapi karena
berdah syaraf dan tak mampu membiayai, Darsa dirawat di rumah. Ternyata ia
terkena gangguan pada syaraf kandung kemih sehingga Darsa ngompol terus dan
impotent. Darsa dirawat oleh Bunek seorang dukun bayi sekaligus tukang pijat.
Beberapa bulan dirawat oleh Bunek, Darsa mengalami kemajuan bahkan bias sembuh.
Akan tetapi Darsa di jebak oleh Bunek dengan menyuruhnya membuktikan
kejantanannya kepada anak bungsu Bunek, Sipah yang pincang. Bunek tak ingin
anak bungsunya itu menjadi perawan tua, sedangkan Darsa sendiri merasa “rikuh”
menolak permintaan Bunek yang telah menyembuhkannya.
Peristiwa ini adalah awal kehancuran rumah tangga Darsa. Lasi minggat ke Jakarta dengan memaksa Pardi, supir truk Pak Tir yang biasa mengantar gula ke Jakarta. Di Jakarta, Lasi dititipkan diwarung Bu Koneng. Ternyata Bu Koneng menjual Lasi kepada Bu Lanting secara halus. Di ruamah Bu Lanting, Lasi dimanjakan. Bu lanting bermaksud menjual Lasi kepada Handarbeni seorang overste purnawirawan yang sedang mencari “bekisar” untuk dijadikan gundik. Istilah bekisar dinisbatkan pada Lasi yang ternyata seorang turunan Jepang. Memang ayah Lasi adalah seorang tentara Jepang yang tertarik dengan mbok Wiryaji muda. Tetapi si Jepang itu pergi semasa Lasi belum lahir dan dikabarkan tewas. Waktu kecil Lasi memang sering diolok-olok teman-temannya dengan sebutan Lasi-pang atau Lasi anak jepang, kecuali Kanjat anak Pak Tir. Walaupun umur kanjat lebih muda dari lasi, tetapi ia selalu ingin melindungi Lasi . ketika diperlihatkan foto Lasi yang berpakaian kimono, Handarbeni sangat tertarik. Katanya mirip artis Jepang Haruko Wanibuchi yang sangat digandruginya.
Peristiwa ini adalah awal kehancuran rumah tangga Darsa. Lasi minggat ke Jakarta dengan memaksa Pardi, supir truk Pak Tir yang biasa mengantar gula ke Jakarta. Di Jakarta, Lasi dititipkan diwarung Bu Koneng. Ternyata Bu Koneng menjual Lasi kepada Bu Lanting secara halus. Di ruamah Bu Lanting, Lasi dimanjakan. Bu lanting bermaksud menjual Lasi kepada Handarbeni seorang overste purnawirawan yang sedang mencari “bekisar” untuk dijadikan gundik. Istilah bekisar dinisbatkan pada Lasi yang ternyata seorang turunan Jepang. Memang ayah Lasi adalah seorang tentara Jepang yang tertarik dengan mbok Wiryaji muda. Tetapi si Jepang itu pergi semasa Lasi belum lahir dan dikabarkan tewas. Waktu kecil Lasi memang sering diolok-olok teman-temannya dengan sebutan Lasi-pang atau Lasi anak jepang, kecuali Kanjat anak Pak Tir. Walaupun umur kanjat lebih muda dari lasi, tetapi ia selalu ingin melindungi Lasi . ketika diperlihatkan foto Lasi yang berpakaian kimono, Handarbeni sangat tertarik. Katanya mirip artis Jepang Haruko Wanibuchi yang sangat digandruginya.
Lasi tak bias
menolak tawaran Bu lanting untuk menjadikan dirinya sebagai gundik Handarbeni
karena ia merasa “kepotangan budi”. Dengan terpaksa dan seperti main-main kawin-kawinan
seperti ketika ia masih kecil dulu. Dan Lasi mencintai Kanjat setelah sekian
lama mereka berpisah dan bertemu dengan nya ketika ia ingin menjemput Lasi
pulang ke kampungnya saat itu ia sedang menunggu tamu Bu Lanting yaitu pak
Handarbeni ia akhirnya menikah dengan Pak Handarbeni selama 2 tahun dan setelah
itu ada seorang teman Bu Lanting yang suka kepadanya yaitu Pak Bambung tetapi
ia menolak dan pulang ke kampungnya. Di Karangsoga ia menikah dengan Kanjat di
saksiakan kerabat dekat orang tua dan Eyang Mus.
Kelebihan
dan kelemahan novel Bekisar Merah:
1. Kelebihan Novel
·
Novel
memberikan nilai-nilai ektrinsik yaitu nilai sosial, nilai budaya, nilai
ekonomi, nilai agama yang memberikan ajaran pada pembaca
·
Novel
memberikan informasi tentang kehidupan masyarakat penyadap air nira kelapa dan
kehidupan kota yang sangat berbanding terbalik dengan kehidupan yang ada di
desa Karangsoga dan itu memang ada di dalam kehidupan kita jarak strata
kehidupan orang desa yang miskin serba kekurangan dan orang kaya di kota yang
bermewah-mewah dan punya jabatan yang tinggi.
·
Nilai
kesetiaaan seorang istri merawat suaminya yang sakit yang menggugah pembaca.
2.
Kekurangan
novel
·
Akhir dari
cerita novel ini masih menggantung, tidak jelas akhirnya
·
Di dalam novel
terdapat banyak kata-kaya yang berasal dari bahasa daerah Jawa yang tida semua
pembaca dapat mengerti, terdapat kata-kata kasar yang terlalu fullgar misalnya kata ”lemah pucuk
penyakit si Darsah”.
Sedikit menyinggung tentang teori yang akan
digunakan untuk menganalisis unsur dalam Bekisar Merah, yaitu feminisme.
Feminisme adalah sebuah gerakan perempuan
yang menuntut emansipasi atau kesamaan dan keadilan hak dengan pria.
Tokoh feminisme disebut feminis. Feminisme sebagai filsafat dan gerakan
berkaitan dengan Era Pencerahan di Eropa yang dipelopori oleh Lady Mary Wortley
Montagu dan Marquis de Condorce. kata feminisme pertama kali dicetuskan oleh
aktivis sosialis utopis, Charles fourier pada tahun 1873. Pergerakan yang
berpusat di Eropa ini berpindak ke Amerika dan berkembang pesat sejak publikasi
John Stuart Mill, Perempuan sebagai Subyek pada tahun 1869. Perjuangan mereka
menandai kelahiran feminisme Gelombang pertama. Pada awalnya gerakan ditujukan
untuk mengakhiri masa-masa pemasungan terhadap kebebasan perempuan. Secara umum
kaum perempuan (feminim) merasa dirugikan dalam semua bidang dan dinommor
duakan oleh kaum laki-laki (maskulin) dalam bidang sosial, pekerjaan,
pendidikan, dan politik khususnya. Terutama dalam masyarakat yang bersifat
patriarki. Sebenarnya ada fundamentalisme agama yang melakukan opresi terhadap
kaum perempuan memperburuk situasi. Di lingkungan agama Islam, wanita tidak
boleh menjadi iman dan drajat wanita di bawah laki-laki. Pergerakan di Eropa
untuk menaikkan derajat kaum perempuan disusul oleh Amerika Serikat saat
terjadi revolusi sosial dan politik. Pada tahun 1792 Mary Wollstonecraft
membuat karya tulis berjudul “Mempertahankan Hak-hak Wanita” (Vindication of
the Right of Woman) yang berisi prinsip-prinsip feminisme dasar yang digunakan
dikemudian hari. Pada tahun-tahun 1830-1840 sejalan terhadap pemberantasan
praktik perbudakan, hak-hak kaum perempuan mulai diperhatikan dengan adanya
perbaikan dalam jam kerja dan gaji kerja. Selain itu, perempuan juga diberi
kesempatan ikut dalam pendidikan dan ikur serta dalam hak pilih. Pada tahun
1960 munculnya negara-negara baru, menjadi awal bagi perempuan mendapatkan hak
pilih dan selanjutnya ikut ranah politik kenegaraan dengan diikutsertakan perempuan
dalam hak suara parlemen.
Analisis:
Pada
novel “Bekisar Merah”, Ahmad Tohari menulis dengan sudut pandang orang di luar
cerita. Sehingga tak ada kata yang menunjukkan penulis masuk dalam cerita novel
tersebut. Ahmad Tohari menaruh kefeminismean kepada tokoh Lasi. Namun, Ahmad
Tohari menggambarkan tokoh Lasi yang berusaha memuaskan suaminya dengan caranya
sendiri. ketidakfeminismean dalam Bekisar Merah di ceritakan dengan penindasan
seorang tokoh Lasi karena asal-usulnya, ekonomi keluarga, dan diduakan oleh
suaminya. Dari situ terlihat muncul ide dari seorang Ahmad Tohari untuk
mengembangkan cerita. Lasi yang mulai tidak tahan dengan penindasan atau
peremehan yang dia terima, maka mengambil keputusan yang nekat. Namun, awalnya
masih belum keluar dari sesuatu yang sebenarnya menindas Lasi. Dia masih
tertindas, tapi Ahmad Tohari menceritakannya dengan kalimat yang tidak langsung
menuju kepada penindasan, namun menceritakan dengan cara tingkah laku tokoh
lain.
Feminisme
yang merupakan sebuah gerakan
perempuan yang menuntut emansipasi
atau kesamaan dan keadilan hak
dengan pria,
terlihat dalam novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari ini. Namun, semua itu
didapat dengan proses yang panjang dan sulit. Ketika sebuah kefeminismean sudah
didapat semua oleh tokoh Lasi, Ahmad Tohari tidak menceritakan kehidupan tokoh
Lasi secara detail. Sehingga feminisme yang didapat terlihat hanya sekejap dan
ceritanya terasa menggantung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar