Marquee Text Live - http://www.marqueetextlive.com

Laman

Rabu, 12 Desember 2012

SINOPSIS DAN KARAKTERISTIK ROMAN SAMAN


Sinopsis:
            Saman yang aslinya bernama Athanasius Wisanggeni mempunyai nama panggilan akrab Wis. Dia merubah namanya karena suatu peristiwa yang terjadi. Wis yang beragama katolik mengabdikan dirinya sebagai pastor di gereja. Namun ia sangat ingin mengabdikan dirinya disuatu desa kecil dimana dia dulu tinggal dengan keluarganya. Desa prabumulih yang menyimpan banyak misteri. Karena tidak diizinkan maka ia hanya boleh berlibur saja. Sebelum sampai ditempat pengabdiannya sebagai Pastor Paroki Parid, dia menyempatkan diri di rumah yang 10 tahun silam menjadi tempat tinggal bersama keluarganya. Karena terlalu sering berkunjung ke rumah tersebut dan cerita banyak hal dengan pemilik rumah yang sekarang maka Wis menjadi akarab, bahkan ia dipercaya untuk menempati rumah tersebut ketika istri pemilik rumah ke Jakarta untuk melahirkan.
            Ketika Wis tinggal di rumah itu, kembali ia merasakan hal-hal aneh seperti yang terjadi pada masa kecilnya dulu. Ia juga bisa mendengar suara yang dia anggap sebagai adik-adiknya. Namun suatu ketika ia mendengaar suara perempuan yang tak jelas namun terasa dekat di belakangnya. Ketika ia toleh ternyata tidak ada siapa-siapa sampai berulang kali. Dan sehingga ia memberanikan diri untuk melihat dibalik jendela dan ternyata ada anak perempuan yang wajahnya  tidak beraturan. Kemudian gadis itu dipegang olehnya, namun ia menggerang. Karena takut dilihat orang kemudian Wis melepaskannya. Gadis itu lari ke dalam hutan dan tidak begitu jauh tiba-tiba dia menghilang. Ketika Wis mengikuti ternyata gadis itu masuk kedalam sumur dan kemudian Wis minta tolong kepada orang-orang yang ada di sekitar sana. Dan ternyata mendapat informasi kalau gadis itu dianggap gila karena kelakuan yang aneh. Namun ketika Wis minta tolong kepada seseorang untuk menolongnya keedalam sumur tidak ada yang berani. Kemudian wis memberanikan diri untuk masuk ke sumur untuk menolong gadis tersebut. Wis dan gadis itu selamat. Setelah diketahhuin ternyata gadis itu bernama Upi yang terkena gangguan jiwa dan tidak mengerti bahasa manusia.
            Ketika Upi dikembalikan kepada orang tuanya, orang tua  Upi bercerita kepada Wis tentang apa yang terjadi pada anaknya sehingga mebuat Upi seperti itu. Kemudian Wis tahu kenapa Upi diasingkan di rumah pemasungan yang kecil dan tidak lebih baik dari kandang kambing. Itu dilakukan supaya tidak membahayakan atau menambah korban lagi setelah kakaknya buta gara-gara perbuatan Upi. Karena tidak tega dengan keadaan tempat tinggal Upi maka Wis membangunkan rumah pasung yang lebih besar dan nyaman. Berawal dari situ Wis juga merasa prihatin melihat keadaan kebun di tempat itu. Dia takut kalau mereka pindah dari situ Upi tidak akan mendapat tempat yang layak. Kemudian dengan izin Uskup untuk berkarya di perkebunan, Wis membuat tempat pengolahan keret sederhana dan pembangkit tenaga listrik untuk wilayah Lubukrantau tersebut. Namun, semua usahanya untuk mensejahterakan petani disitu sia-sia karena ada pihak yang ingin membeli seluruh lahan karet untuk dijadikan kebun kelapa sawit. Karena ada perlawanana dari petani maka pihak tersebut membuat teror dengan meperkosa Upi. Setelah diketahui akan ada yang akan datang dari pihak pembeli, maka para perempuan dan anak-anak diamankan di surau. Kemudian ada yang datang dan rumah para petani tersebut dibakar dan menculik Wis ke penjara pengasingan. Disitu Wis disiksa habis-habisan supaya mengakui apa yang sebenarnya tidak ia lakukan. Kemudian ia mengarang cerita untuk mengurangi penyiksaan pada dirinya. Hal tersebut terus dilakukan sampai suatu ketika tempat penyekapan itu terbakar dan tanpa sadar ia mendengar suara kecil dan dia selamat dari kobaran api tersebut. Pada saat itu juga dia ditolong Anson yaitu abang Upi dan anak dari Mak Argani. Padahal yang membakar tempat itu ialah Anson dan kawan-kawannya. Sesampai di rumah sakit ia dijenguk Pater Westenberg dan membicarakan informasi yang berkembang setelah kejadian itu dan statusnya menjadi buron.
            Tak lama kemudian sebuah mobil membawa Wis pergi ke suatu tempat yang aman. Di sana Wis dirawat sampai sembuh. Kemudain ia juga sekalian mengganti identitasnya sampai peristiwa itu selesai, kira-kira dua tahun lamanya. Ia memilih nama Saman tanpa pertimbangan.
            Dalam kehidupannya, Saman juga pernah terlibat dengan kehidupan empat orang gadis yang bersahabat. Mereka adalah Shakuntala yang sangat membenci ayahnya, Yasmin yang membenci guru, Laila yang membenci laki-laki dan Cok yang tidak bisa menemukan apa yang harus ia benci. Kebencian Laila hilang ketika ia jatuh cinta pada Wisanggeni yang waktu itu mahasiswa yang mendapat tugas membimbing rekoleksi di SMP mereka. Keluarga Laila tidak seetuju karena yang didekati calon pastor begitu juga dengan Yasmin, namun Yasmin yang selalu mengatur pertemuan Laila dengan Wis.
            Semua telah berubah. Laila tidak lagi mencintai Wisanggeni yang sudah menjadi nama menjadi Saman. Namun ia mencintai Sihar, seorang yang sudah berkeluarga. Meskipun demikian, Laila paling kuat mempertahankan keperawanannya dibanding ketiga sahabatnya.
            Mengetahui posisi Saman yang tidak aman, maka persahabatan itu juga yang menyelamatkannya. Ia dikirim ke New York oleh Yasmin dan Cok. Dari kejadian itu, mereka menjadi sering berkomunikasi di dunia maya. Disisi lain Saman sangat dekat dengan Yasmin. Kemudian itu yang membuat Yasmin berselingkuh dengan Saman karena mengetahui kalau suaminya Lukas tidak dapat memberikan keturunan. Sehingga muncul niatan pada diri Saman untuk menolong Yasmin supaya mendapat anak dari Saman.
Amanat:
Ø  Janganlah menghindar dari masalah jika merasa tidak bersalah.
Ø  Jagalah kehormatan sebagai perempuan supaya menjadi perempuan sejati.
Ø  Jangan mengumbar janji jika masih belum yakin dapat melakukan
Ø  Dalam hukum, tak ada perlakuan yang sama menurut kesalahannya.
Komentar:
Novel Saman merupakan karya Ayu Utami yang memenagkan Sayembara Roman Dewan Kesenian tahun 1998. Semua itu karena novel ini berani tampil beda dan dijadikan senagai tonggak pembaharuan Sastra Indonesia dalam Sejarah Sastra.
Dalam novelnya, Ayu Utami menggabungkan dua dunia yang sangat kontras. Yaitu dunia modern yang dekat dengan pergaulan bebas dan yang sarat dengan makhluk halus, bahkan makhluk halus yang mampu beerkomunikasi dengan manusia. Ayu Utami juga mengankat ceritan dua agama yaitu Islam dan Katolik.
Dalam novel ini terdapat beberapa karakteristik, diantaranya: bertemakan cinta dan seks, menggunakakn bahasa Indonesia, dan menggunakan bahasa daerah dengan logat Batak.
Menurut saya, kelemahan novel ini hanyalah soal keberanian Ayu Utami dalam memaparkan seks secara jelas dan tidak ditutup-tutupi. Dapat disimpulkan bahwa novel ini hanya dapat dibaca oleh orang dewasa dan remaja yang sudah matang cara pemikirannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar